
STIKES TANAWALI PERSADA
GAMBARAN UMUM AKSEPTOR DEPO PROGESTIN DI KELURAHAN PAPPA KECAMATAN
PATTALLASSANG KABUPATEN TAKALAR PERIODE
JANUARI S.D. MARET 2013
KARYA TULIS ILMIAH
Muthmainnah
10 EB 1002
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAKALAR
MARET 2013

STIKES TANAWALI
PERSADA
GAMBARAN UMUM AKSEPTOR DEPO PROGESTIN DI KELURAHAN PAPPA KECAMATAN
PATTALLASSANG KABUPATEN TAKALAR PERIODE
JANUARI S.D. MARET 2013
Diajukan Sebagai
Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Ahli Madyah Kebidanan
Muthmainnah
10 EB 1002
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
TAKALAR
MARET 2013
HALAMAN PERNYATAAN
ORISINALITAS
Karya
Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan
semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah
saya nyatakan dengan benar.
Nama : Muthmainnah
NIM
: 10 EB 1002
Tanda
tangan :
Tanggal : Maret 2013
HALAMAN PENGESAHAN
Karya
tulis ilmiah ini diajukan oleh :
Nama : Muthmainnah
NIM : 10
EB 1002
Program studi : DIII
Kebidanan
Judul KTI
: Gambaran Umum Akseptor Depo Progestin Di Kelurahan Pappa
Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar Periode Januari S.D.
Maret 2013
Telah berhasil
dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan
yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli Madyah Kebidanan pada program Studi
Ilmu Kebidanan, STIKES Tanawali Persada Takalar.
DEWAN PENGUJI
Pembimbing I :
Saenab, S.ST
(...........................)
Pembimbing II : Maemunah, S.ST
(...........................)
Penguji
: Alwi Bagenda, SE, M.Kes (...........................)
Ditetapkan di : Takalar
Tanggal : Juni 2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya, saya dapat
menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Penulisan karya tulis ilmiah ini
dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ahli
Madiah Kebidanan pada program studi DIII Kebidanan STIKES Tanawali Persada.
Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari
masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya tulis ilmiah ini, sangatlah sulit
bagi saya untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Oleh karena itu, saya
mengucapkan terimah kasih kepada :
1.
Ir. Zaenal Abidin selaku Ketua Yayasan
Tanawali Persada
2.
Patmawati, S.Kp, M.Kes selaku
Ketua STIKES Tanawali Persada Takalar
3.
Saenab, S.ST selaku pembimbing I
yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya dalam
penyusunan karya tulis lmiah ini
4.
Maemunah, S.ST selaku pembimbing
II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan saya
dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini
5.
Seluruh dosen serta staf STIKES
Tanawali Persada Takalar yang telah memberikan bekal Ilmu pengetahuan yang tak
ternilai harganya.
6.
Kepala Kelurahan Pappa beserta
stafnya yang telah memberikan bantuan
dan izin dalam melakukan penelitian/pendataan di daerah Kelurahan Pappa Kecamatan
Pattallassang.
7.
Yang tercinta Ayahanda dan Ibunda serta
seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan moral maupun material serta
do’anya sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.
8.
Seluruh sahabat serta teman
seperjuangan yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu, terima kasih
atas bantuan dan dukungannya sampai penulis dapat menyelesaikan karya tulis
ini.
Akhir kata, saya
berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang
telah membantu. Semoga karya tulis ilmiah ini membawa manfaat bagi pengembangan
ilmu.
Takalar, Maret 2013
Penulis
BIODATA PENULIS
A. Identitas
1.
Nama : Muthmainnah
2.
Nim : 10. EB. 1002
3.
Jenis
Kelamin : Perempuan
4.
Tempat/Tanggal
Lahir : Bontomanai, 19-07-1991
5.
Suku/Bangsa : Makassar/Indonesia
6.
Agama : Islam
7.
Alamat : Desa Bontomanai,
Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar
B. Riwayat Pendidikan
1.
Tamat
SD Inpres Bontomanai Tahun 2004
2.
Tamat
SMP Negeri 1 Mangarabombang Tahun 2007
3.
Tamat
SMA Negeri 2 Takalar Tahun 2010
4. Mengikuti Pendidikan Prodi D
III Kebidanan STIKES Tanawali Persada Takalar
Muthmainnah
ABSTRAK
Program studi : DIII Kebidanan
Judul :Gambaran umum akseptor
Depo Progestin di Kelurahan Pappa Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar
Periode Januari s.d. Maret 2013.
Kontrasepsi ialah
upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran umum akseptor Depo
Progestin di Kelurahan Pappa Kecamatan Pattallassang Kabupaten
Takalar periode Januari s.d. Maret
2013.
Desain
penelitian ini adalah penelitian deskriptif, populasi adalah seluruh akseptor
KB Depoprogestin berdasarkan tingkat umur ibu dan paritas ibu sebanyak 160
orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 53 orang menggunakan cara Systematic Sampling. Pengumpulan data
diperoleh berupa data primer yang dikumpulkan langsung oleh peneliti dan para
responden di Kelurahan Pappa Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, data
diolah secara manual dengan menggunakan kalkulator sedangkan penyajian data
dalam bentuk tabel distribusi statistik deskriptif disertai penjelasan.
Kata Kunci : Kontrasepsi, Depo Progestin.
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL.................................................................................................i
LEMBAR
PERNYATAAN ORISINALITAS........................................................ii
LEMBAR
PENGESAHAN....................................................................................iii
KATA PENGANTAR............................................................................................iv
BIODATA...............................................................................................................vi
ABSTRAK.............................................................................................................vii
DAFTAR
ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR
TABEL...................................................................................................x
DAFTAR
SKEMA..................................................................................................xi
DAFTAR
LAMPIRAN..........................................................................................xii
BAB
1. PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1
Latar
Belakang.................................................................................1
1.2
Rumusan
Masalah............................................................................2
1.3
Tujuan
Penelitian.............................................................................3
1.4
Manfaat
Penelitian...........................................................................3
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1 Tinjauan
Umum Tentang Alat Kontrasepsi......................................4
2.2 Tinjauan Umum Tentang
Kontrasepsi Suntikan...............................5
2.3 Tinjauan Umum Tentang Variabel yang Diteliti............................11
BAB 3. KERANGKA KONSEP............................................................................14
3.1 Bagan Kerangka Konseptual...........................................................14
3.2 Defenisi Operasional
Variabel Penelitian.......................................14
BAB
4. METODE PETELITIAN..........................................................................15
4.1 Desain Penelitian.............................................................................15
4.2 Populasi dan Sampel......................................................................15
4.3 Waktu Penelitian.............................................................................15
4.4 Tempat Penelitian..............................................................................15
4.5 Alat Pengumpulan Data....................................................................15
4.6 Metode Pengumpulan Data...............................................................16
BAB 5. PEMBAHASAN.......................................................................................17
5.1 Hasil Penelitian.................................................................................17
5.2 Pembahasan.......................................................................................19
BAB 6.SIMPULAN DAN SARAN..................................................................21
6.1 Simpulan.......................................................................................21
6.2 Saran..................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Master Tabel
2.
Surat pengajuan judul karya tulis
ilmiah kepada pembimbing
3.
Surat pernyataan persetujuan melakukan penelitian
4.
Lembar Konsultasi KTI pada pembimbing
5.
Surat izin Pengambilan Data Awal di Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar
6.
Surat
Rekomendasi Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar
7.
Pernyataan Persetujuan Melakukan Ujian Kti
8.
Surat Persetujuan Waktu Ujian
9.
Lembar perbaikan karya tulis ilmiah
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
1.
Distribusi Statistik Deskriptif Variabel Umur Akseptor Depo
Progestin di Kelurahan
Pappa Kecamatan
Pattallassang Kabupaten Takalar Periode Januari s.d. Maret 2013………………………...……………………………………..17
2.
Distribusi Statistik Deskriptif Variabel Paritas Akseptor
DepoProgestin di Kelurahan
Pappa Kecamatan
Pattallassang Kabupaten Takalar Periode Januari s.d. Maret 2013……………………………………………………………….18
DAFTAR SKEMA/ GAMBAR
Skema
3.1 Bagan Kerangka Konseptual................................................................1
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Paradigma baru program Keluarga
Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi visi
untuk mewujudkan “Keluarga Berkualitas tahun 2015” Keluarga yang berkualitas
adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang
ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Dalam paradigma baru program Keluarga Berencana ini, misinya
sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi, sebagai
upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga (Affandi, 2011).
Pencegahan
kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama diperlukannya pelayanan
keluarga berencana. Masih banyak alasan lain, misalnya membebaskan wanita dari
rasa khawatir terhadap terjadinya gangguan fisik atau psikologi akibat tindakan
abortus yang tidak aman, serta tuntutan perkembangan sosial terhadap
peningkatan status perempuan di masyarakat (Affandi, 2011).
Menurut Word Health Organization (WHO) diseluruh
dunia 45% wanita usia subur yang menikah menggunakan kontrasepsi. Meskipun
demikian terdapat variasi yang bermakna dari negara ke negara misalnya 69% di
Asia Timur tapi hanya 11% di Afrika dari 400 juta jiwa (15 %) menggunakan
kontrasepsi hormonal (oral,suntikan) dan lebih setengah tinggal di Amerika
Serikat, Brazil, Prancis, dan Jerman (Witjaksono, 2013).
Indonesia menghadapi masalah dengan jumlah dan kualitas
sumber daya manusia dengan kelahiran 5.000.000 per tahun. Untuk dapat
mengangkat derajat kehidupan bangsa telah dilaksanakan secara bersamaan
pembangunan ekonomi dan keluarga berencana tidak dilakukan bersamaan dengan pembangunan
ekonomi,dikhawatirkan hasil pembangunan tidak ada berarti (Chandranita, 2012 ).
Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, pada Tahun 2012
jumlah akseptor KB mencapai 738.385 peserta untuk akseptor kontrasepsi, akseptor
yang paling banyak adalah metode suntikan sebesar 335.003 peserta atau (45,4%)
dari jumlah akseptor, sedangkan akseptor pil sebanyak 257.191 peserta atau
(34,8%), akseptor implant sebanyak 62.317 peserta atau (8,43%), akseptor IUD
sebanyak 55.852 peserta atau (7,56%), dengan alat kontrasepsi kondom sebanyak
15.681 peserta atau (2,15%), serta akseptor KB dengan metode kontrasepsi mantap
dimana masing-masing Metode Operasi Wanita (MOW) sebanyak 9.377 peserta atau
(1,26%), Metode Operasi Pria (MOP) sebanyak 6.82 peserta atau (0,92%), dan
lain-lain sebanyak 2.279 peserta atau (0,30%) (Data Dinas kesehatan Provinsi
Sul-Sel 2012).
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar pada periode Januari - Desember 2012 tercatat 192317 akseptor yang memakai alat kontrasepsi yang terdiri dari :
suntikan 121515 orang (63,18%). Pil
36467 orang (18,96%), Kondom 6838 orang (3,55%), Implant 22528 orang (11,71%), IUD 2230 orang (1,15%), MOW 1199 orang (0,62%), MOP 1540 orang (0,80%) (Data Dinas Kesehatan Kab.
Takalar 2012).
Data
dari rekam medik puskesmas Pattallassang pada periode Januari - Desember 2012
tercatat 3791 orang akseptor kontrasepsi
yang terdiri dari : suntikan 2206 orang (58%), Pil : 957 orang (25%), Kondom
200 orang (5%), Implan 239 orang (6%), IUD 129 orang (4%), MOW : 60 orang (2%),
dan MOP 1 orang (0%) (Rekam medik Puskesmas Pattallassang,2012).
Hal tersebut mendorong peneliti untuk mengetahui lebih jauh
tentang Akseptor Depo Progestin Pada Akseptor Keluarga Berencana di Wilayah Kecamatan Pattallassang Periode januari-Maret 2013.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran umum akseptor Depo Progestin berdasarkan umur ibu di Wilayah Kecamatan Pattallassang periode Januari – Maret 2013 ?
2.
Bagaimana gambaran umum akseptor Depo
Progestin berdasarkan paritas ibu di Wilayah Kecamatan Pattallassang periode Januari
– Maret 2013 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. 3.1 Tujuan
umum
Tujuan
umum pada penelitian ini adalah mengetahui gambaran umum akseptor Depo Progestin di wilayah kecamatan Pattallassang periode Januari-Maret
2013.
1.3.2
Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada
penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui gambaran umum akseptor Depo Progestin berdasarkan umur ibu di wilayah kecamatan Pattallassang periode
Januari-Maret 2013.
2. Mengetahui gambaran umum akseptor Depo Progestin berdasarkan paritas ibu di wilayah kecamatan Pattallassang periode
Januari-Maret 2013.
1.4 Manfaat Penelitian
1.
Hasil penelitian ini diharapakan dapat menjadi informasi dan
bahan bacaan bagi penelitian selanjutnya.
2.
Hasil penelitian ini dijadikan sumber
informasi bagi semua pihak khususnya institusi terkait dalam rangka
peningkatan pelayanan Keluarga Berencana (KB).
3.
Merupakan pengalaman berharga bagi
peneliti dalam rangka menambah wawasan pengetahuan serta pengembangan diri
peneliti dalam pelayanan Keluarga Berencana.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tentang Alat Kontrasepsi
Kontrasepsi ialah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara dapat
juga bersifat permanen. Kontrasepsi yang bersifat permanen
dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi (Wiknjosastro,2009).
Kontrasepsi yang baik hendaknya harus memenuhi persyaratan.
Menurut Mochtar, 2012
syarat-syarat dan konrasepsi yang baik adalah aman pemakaian dan dapat
dipercaya, efek samping yang merugikan tidak ada, lama kerjanya dapat diatur
menurut keinginan, tidak mengganggu hubungan persetubuhan, tidak memerlukan
bantuan medik atau kontrol yang ketat selama pemakaiannya, cara menggunakannya
sederhana, harga murah supaya dapat dijangkau masyarakat, dapat diterima oleh
pasangan suami istri.
Cara – cara kontrasepsi dapat
dibagi menjadi beberapa metode yaitu pembagian menurut jenis kelamin pemakaian
antara lain cara atau alat yang dipakai suami (pria), cara atau alat yang dipakai
istri (wanita). Pembagian menurut pelayanan cara medis dan non medis, cara
klinis dan non klinis. Pembagian menurut efek kerjanya antara lain tidak
mempengaruhi fertilisasi, menyebabkan infertilitas temporer (sementara),
kontrasepsi permanen dengan infertilisasi menetap.
Pembagian menurut cara kerja alat
/ cara kontrasepsi yaitu menurut keadaan biologis antara lain senggama
terputus, metode kalender, suhu badan, dan lain-lain.
Memakai alat barier alat mekanis antara lain kondom,
diafragma, dan kap porsio, obat kimiawi Spermisida. Kontrasepsi intrauterin
yaitu IUD. Hormonal antara lain Pil KB, Suntikan KB, dan Alat Kontrasepsi
Bawah Kulit (AKBK). Operatif antara lain
tubektomi dan vasektomi (Mochtar, 2012).
Pembagian umum dan banyak dipakai
adalah metode merakyat (folk methods) yaitu senggama terputus (coitus
interruptus), pembilasan pasca senggama (postcoital douche), perpanjangan masa
laktasi (prolonged lactation). Metode tradisional (tradisional methods) yaitu
pantang berkala (sistem kalender, sistem suhu badan), kondom (karet KB),
diafragma vagina, spermisida. Metode Modern yaitu kontrasepsi pil KB, suntikan KB, alat kontrasepsi bawah
kulit (AKBK) atau Norplant. Kontrasepsi intrauterine yaitu : IUD (Intra Uterin
Devise). Metode Permanen Operatif yaitu tubektomi pada wanita, vasektomi pada
pria (Mochtar, 2012).
2.2 Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi Suntikan
Kontrasepsi suntikan di Indonesia
semakin banyak dipakai karena efektif, pemakaiannya praktis, harganya relatif
murah, dan aman. Kontrasepsi yang digunakan ialah Longacting Progestin yaitu
Noretisteron enantat (Neten) dengan nama dagang Noristrat dan Depomendroksi
Progesterone acetat (DMPA) dengan nama dagang Depoprovera (Mochtar, 2012).
Klasifikasi kontrasepsi suntikan,
terdapat dua jenis kontrasepsi suntikan yang
beredar di Indonesia yaitu :
1)
Depo Medroxy Progesteron Asetat (DMPA), mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3 bulan dengan
cara disuntik intramuskuler.
2)
Jenis Suntikan kombinasi adalah 25 mg
Depo Medroxy Progesteron Asetat dan 5 mg
estradiol sipionat yang diberikan injeksi IM sebulan sekali (Cyclofem)
dan 50 mg noritindron enantat dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi
IM sebulan sekali (Affandi, 2011).
Mekanisme Kerja yaitu mencegah ovulasi, mengentalkan
lendir servis sehinggamenurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput lendir rahim tipis dan antrofi, menghambat transportasi
gamet oleh tuba, (Affandi, 2011).
Keuntungan dari kontrasepsi suntikan yaitu sangat
efektif, pencegahan kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan
suami istri, sedikit efek samping, tidak diperlukan pemeriksaan dalam, dapat
dipakai pasca persalinan, pasca abortus atau pasca menstruasi, pengawasan medis
yang ringan, tidak memiliki pengaruh terhadap ASI (Affandi, 2011).
Keterbatasan kontrasepsi
suntikan yaitu sering ditemukan gangguan haid, seperti siklus haid yang memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak atau sedikit, perdarahan bercak atau
tidak haid sama sekali. Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan
kesehatan. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya. Permasalahan
berat badan merupakan efek samping tersering. Tidak menjamin perlindungan
terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, atau infeksi virus HIV.
Keterbatasan kontrasepsi
suntikan lainnya yaitu terlambatnya
kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian oleh karena belum habisnya
pelepasan obat suntikan. Pada penggunaan jangka panjang sedikit menurunkan
kepadatan tulang. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan
pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, hervositas,
jerawat (Affandi, 2011).
Kontra Indikasi yaitu hamil atau
diduga hamil, perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya, menderita kanker
payudara atau riwayat kanker payudara, diabetes Melitus disertai komplikasi,
kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migrain, penyakit
hati akut (Affandi, 2011).
Menurut Mochtar, 2012 cara
pemberian kontrasepsi suntikan yaitu :
1)
Depo Provera
Waktu pasca persalinan dapat diberikan suntikan KB pada ke 3-5 post
partum atau sesudah ASI berproduksi atau sebelum pulang dari Rumah Sakit, atau 6-8 minggu pasca bersalin asal pastikan bahwa ibu tidak hamil.
Dalam masa internal diberikan pada hari 1-5 haid Depo provera
disuntikkan secara IM pada otot bokong (Muskulus gluteus) agak dalam, sebelum
diberikan, botol obat harus dikocok agak lama dulu sampai seluruh obat
kelihatan betul-betul dan tercampur dengan baik. Suntikan diberikan sekali
setiap 3 bulan.
2)
Cylofem
Cylofem mengandung progesteron sebanyak 50 mg dan estrogen disuntikkan
secara IM agak dalam pada otot gluterus. Suntikan diberikan setiap 4 minggu.
Efek samping dan penanganannya
yaitu amenorea (tidak terjadi perdarahan / spotting) yaitu bila tidak hamil
pengobatan apa pun tidak perlu, bila terjadi kehamilan rujuk klien. Mual /
pusing / muntah yaitu pastikan tidak ada kehamilan, bila hamil, rujuk. Bila
tidak hamil, informasikan bahwa hal ini adalah hal yang biasa dan akan hilang
dalam waktu dekat. Perdarahan bercak (spotting) yaitu bila hamil rujuk, bila
tidak hamil cari penyebab perdarahan lain. Jelaskan bahwa perdarahan yang
terjadi merupakan hal biasa. Bila perdarahan berlanjut dan mengkuatirkan klien.
Metode kontrasepsi lain perlu dicari.
Efek samping lainnya yaitu meningkatnya
atau menurunnya berat badan yaitu informasikan bahwa kenaikan atau penurunan
berat badan sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi. Perhatikan diet klien bila
penurunan berat badan terlalu mencolok. Bila berat badan kelebihan, hentikan
suntikan dan anjurkan metode kontrasepsi lain (Affandi, 2011).
Menurut Affandi, 2011 tanda-tanda
yang harus diwaspadai pada penggunaan kontrasepsi suntikan yaitu nyeri dada hebat atau napas
pendek, kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau serangan jantung. Sakit
kepala hebat atau gangguan penglihatan, kemungkinan terjadi stroke. Nyeri
tungkai hebat, kemungkinan terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai. Tidak
terjadi pendarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya,
kemungkinan terjadi kehamilan.
2.3 Tinjauan Umum Tentang Variabel yang
Diteliti
1. Umur
Umur adalah lamanya tahun dihitung sejak
dilahirkan hingga penelitian ini dilakukan umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru. Diketahui bahwa
usia yang sangat baik untuk reproduksi adalah 20-35 tahun dan Usia 35 tahun
bagi seorang wanita adalah gerbang memasuki periode usia resiko tinggi dari
segi reproduksi. Dari segi reproduksi wanita yang berusia 35 tahun keatas
umumnya telah pernah merasakan uniknya masa kehamilan, tegangnya mengalami
proses persalinan dan kebahagian dalam merawat anak. Mereka biasanya juga
telah mempunyai jumlah anak yang cukup dan sudah pernah mencoba serta memakai
beberapa alat ,obat atau metode kontrasepsi. remaja yang hamil, terutama
sekali yang sangat muda dan mereka yang tidak mendapatkan perawatan sebelum
melahirkan, dibandingkan wanita di usia 20 tahunan lebih sering mengalami
masalah kesehatan seperti anemia dan toksemia ( Azikin, 2011).
2.
Paritas
Paritas adalah jumlah atau
banyaknya anak yang telah dilahirkan oleh ibu tanpa memandang lahir, atau mati,
nilai paritas ibu diambil dari status ibu dengan melihat GPA (Gravida, Para, Abortus)
Untuk menyelamatkan ibu dan anak
maka perlu mengatur jarak kelahiran. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman
ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi > 3
mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas lebih
tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas I dapat ditangani dengan asuhan
obstetrik lebih baik sedangkan resiko pada partas tinggi dapat dikurangi atau
dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi
adalah tidak direncanakan (Wiknjosastro, 2009).
3.
Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja
mempengaruhi kerelaan menggunakan keluarga berencana tetapi juga pemilihan
suatu metode. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode kalender lebih
banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Dihipotesis bahwa
wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang efektif, tetapi
tidak rela mengambil resiko yang terkait dengan sebagai metode kontrasepsi (Handayani,
2010).
4.
Pekerjaan
Bekerja umumnya merupakan
kegiatan yang menyita waktu, bekerja bagi ibu – ibu akan mempunyai pengaruh
terhadap keluarga. Pekerjaan dari peserta KB dan suami akan mempengaruhi
pendapatan dan status ekonomi keluarga. Status pekerjaan dapat berpengaruh
terhadap keikut sertaan dalam KB karena adanya faktor pengaruh lingkungan
pekerjaan yang mendorong seseorang untuk ikut dalam KB, sehingga secara tidak
langsung akan mempengaruhi status dalam pemakaian kontrasepsi
( Azikin, 2011).
5.
Sosial Budaya
Tinggi rendahnya status social dan
keadaan ekonomi penduduk di Indonesia akan mempengaruhi perkembangan dan
kemajuan program KB di Indonesia. Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi
klien dalam memilih metode kontrasepsi.
Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai
metode, kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan persepsi
mengenai resiko kehamilan dan status wanita. Penyedia layanan harus menyadari
bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi pemilihan metode di daerah mereka
dan harus memantau perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi pemilihan
metode (Handayani, 2010).
METODE
PENELITIAN
3.1
Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti
Di masyarakat , metode
kontrasepsi hormonal tidaklah asing lagi. Hampir 70 % akseptor KB menggunakan metode
kontrasepsi hormonal. Namun demikian banyak juga efek samping yang dikeluhkan
oleh akseptor KB berkenaan dengan metode kontrasepsi yang dipakainya akhirnya
banyak kejadian akseptor KB yang dropout karena belum memahami dengan baik
metode kontrasepsi hormonal tersebut (Handayani, 2010).
Adapun variabel yang ingin diteliti adalah tentang umur dan paritas.
Untuk menjelaskan pemahaman maka
akan di uraikan secara singkat dan sederhana variabel-variabel yang akan di
teliti sebagai berikut :
1. Umur
Umur adalah lamanya tahun dihitung
sejak dilahirkan hingga penelitian ini dilakukan umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola kehidupan baru. Diketahui bahwa usia yang sangat baik untuk reproduksi
adalah 20-35 tahun dan Usia 35 tahun bagi seorang wanita adalah gerbang
memasuki periode usia risiko tinggi dari segi reproduksi. Dari segi reproduksi
wanita yang berusia 35 tahun keatas umumnya telah pernah merasakan uniknya masa
kehamilan, tegangnya mengalami proses persalinan dan kebahagian dalam
merawat anak. Mereka biasanya juga telah mempunyai jumlah anak yang cukup
dan sudah pernah mencoba serta memakai beberapa alat ,obat atau metode
kontrasepsi. remaja yang hamil, terutama sekali yang sangat muda dan mereka
yang tidak mendapatkan perawatan sebelum melahirkan, dibandingkan wanita di
usia 20 tahunan lebih sering mengalami masalah kesehatan seperti anemia dan
toksemia ( Azikin, 2011).
Pengaruh Kontrasepsi
terhadap umur Akseptor :
1)
Umur < 20 Tahun atau fase menunda kehamilan yaitu dalam masa menunda kesuburan / kehamilan ini merupakan waktu bagi
wanita pasangan usia subur yang sudah menikah dengan umur < 20 tahun. Pada
wanita seusia itu, alat-alat reproduksi masih belum stabil, dan juga secara
sosial mental dan emosi mereka belum dewasa sehingga ditakutkan dapat terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan bila ia hamil.
2)
Umur 20 – 35 Tahun atau Fase Menjarangkan Kehamilan yaitu umur
terbaik bagi ibu untuk melahirkan menurut ilmu kesehatan reproduksi
usia antara 20 – 30 tahun, namun
akhir-akhir ini mulai beranjak hingga seusia ini yang efektifnya tinggi, karena
akseptor masih mengharapkan punya anak lagi dapat dipakai 3 – 4 tahun sesuai
dengan jarak kelahiran yang diinginkan, dan tidak menghambat produksi Asi.
3)
Umur > 35 Tahun atau fase menghentikan kehamilan yaitu perempuan yang berusia lebih dari 35 tahun memerlukan
kontrasepsi yang aman dan efektif karena
kelompok ini akan mengalami peningkatan morbiditas dan mortalitas jika mereka
hamil. Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa
baik pil kombinasi maupun suntikan kombinasi dapat digunakan dengan aman oleh
klien berusia > 35tahun sampai masa menopause, jika tidak terdapat factor
resiko lain. Kekhawatiran tentang resiko kanker mamma pada pemakaian
kontrasepsi hormonal sesudah usia 35 tahun, menurut penelitian terakhir ini
tidak terbukti. Disamping terbukti turunnya tingkat prevalensi kanker payudara
diantara perempuan usia > 35 tahun, juga ternyata resiko kanker endometrium
dan kanker ovarium juga turun. Namun, perempuan usia lebih 35 tahun yang
merokok sebaiknya tidak menggunakan pil kombinasi maupun suntikan kombinasi (Affandi, 2011).
2.
Paritas
Paritas adalah jumlah atau
banyaknya anak yang telah dilahirkan oleh ibu tanpa memandang lahir, atau mati,
nilai paritas ibu diambil dari status ibu dengan melihat GPA (Gravida, Para, Abortus)
Untuk menyelamatkan ibu dan anak
maka perlu mengatur jarak kelahiran. Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman
ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi > 3
mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas lebih
tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas I dapat ditangani dengan asuhan
obstetrik lebih baik sedangkan risiko pada partas tinggi dapat dikurangi atau
dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi
adalah tidak direncanakan (Wiknjosastro,2009).
3.2
|
Kerangka Konseptual
![]() |
Keterangan :
3.3
Defenisi Operasional Variabel Penelitian
1.
Umur
Umur yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah lamanya akseptor hidup dihitung sejak lahir sampai saat
pertama mendapatkan pelayanan kontrasepsi suntikan yang diperoleh dari status
ibu yang dinyatakan dalam tahun
Kriteria Objektif :
1)
Risiko Tinggi :Apabila umur akseptor < 20 tahun dan > 35 tahun.
2)
Risiko Rendah : Apabila umur akseptor 20 – 35 tahun.
2.
Paritas
Paritas adalah jumlah atau
banyaknya anak yang telah dilahirkan oleh ibu tanpa memandang lahir, atau mati,
nilai paritas ibu diambil dari status ibu dengan melihat GPA (Gravida, Para, Abortus)
Kriteria Objektif :
1)
Risiko Tinggi : Apabila paritas 1 dan >
3
2)
Risiko Rendah : Apabila paritas 2 – 3
3.4 Desain
Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
adalah penelitian deskriptif suatu metode penelitian yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan sejarah objektif.
3.5
Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor di wilayah Kecamatan
Pattallassang periode Januari – Maret 2013 sebanyak 219 orang.
2.
Sampel
Adapun sampel dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor Depoprogestin
di wilayah Kecamatan Pattallassang periode Januari – Maret 2013 dengan cara total sampling sebanyak 149 orang.
3.6
Waktu
Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Maret sampai 1 April 2013.
3.7
Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pappa Kecamatan Pattallassang.
3.8
Alat Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa data sekunder yaitu data yang diambil dari akseptor
Depoprogestin di wilayah Kecamatan Pattallassang periode Januari – Maret 2013.
Pengelolaan data dilakukan secara
manual dengan menggunakan kalkulator kemudian disajikan dalam bentuk
tabel dan narasi.
3.9
Metode Pengumpulan Data
Menggunakan rumus
:
P =
x 100 Keterangan : P
: Presentase
f : Frekuensi variabel
N : Jumlah sampel
PEMBAHASAN
5.1
Pembahasan
1.
Umur Akseptor
Dari hasil
penelitian di wilayah Kecamatan Pattallassang periode Januari – Maret 2013,
ternyata kelompok umur yang terbanyak menggunakan alat kontrasepsi suntikan
adalah umur 20 – 35 tahun sebanyak 107 (71,8%) orang yang secara media
merupakan resiko rendah, sementara untuk kelompok umur < 20 tahun dan >35
tahun didapatkan hanya sebagian kecil yakni 42 (28,2%) akseptor Depoprogestin.
Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pelayanan kontrasepsi yaitu dihayati NKKBS
oleh pus dimana pada usia 20-35 tahun adalah masa menjarangkan kehamilan.
Pada
penelitian sebelumnya di Puskesmas Bara-Baraya Makassar periode Januari-Desember
2012, umur yang terbanyak menggunakan alat kontrasepsi suntikan adalah kelompok
umur 20-35 tahun sebanyak 569 (81,0%), pada kelompok umur < 20 dan > 35
tahun sedikit yaitu 133 (18,9%) akseptor.
Sedangkan penelitian di Puskesmas Bantimurung pada Tahun 2011 menunjukkan bahwa dari 67 akseptor KB
kontrasepsi suntikan Depo Progestin
terbanyak pada akseptor KB Risiko rendah yang berumur 20-35 tahun yaitu
sebanyak 48 orang (71,6 %) dan terendah pada risiko tinggi yang berumur <
20 dan > 35 tahun yaitu sebanyak 19
orang (29,4 %).
2.
Paritas Akseptor
Dari hasil penelitian di wilayah Kecamatan
Pattallassang periode Januari – Maret 2013, paritas terbanyak menggunakan alat
kontrasepsi adalah 2-3 sebanyak 80 (53,6%)
dan yang paling sedikit menggunakan alat kontrasepsi suntikan adalah
paritas 1 dan > 3 sebanyak 69 (46,3%) akseptor Depoprogestin.
Pada penelitian sebelumnya di Puskesmas
Bara-Baraya Makassar periode Januari – Desember 2012, terbanyak menggunakan alat kontrasepsi
suntikan adalah paritas 1-2 yaitu 444 (63,2%) akseptor sedangkan yang sedikit
adalah paritas 3-5 yaitu 258 (36,6%) akseptor KB suntikan.
Sedangkan pada penelitian di Puskesmas
Bantimurung pada Tahun 2011 menunjukkan bahwa dari 67 akseptor KB kontrasepsi
suntikan Depo Progestin tertinggi pada akseptor KB Risiko rendah yang memiliki
paritas ≤ 3 yaitu sebanyak 52 orang (77,61 %) dan terendah pada risiko tinggi
yang memiliki paritas ≥ 4 yaitu sebanyak 15 orang (22,39 %).
5.2
Hasil Penelitian
Dari hasil
penelitian yang dilakukan mulai tanggal 10 Maret sampai 1 April 2013 di wilayah Kecamatan Pattallassang telah didapatkan 149 orang
akseptor Depoprogestin Periode Januari –
Maret 2013.
Data yang diperoleh melalui
pendataan di wilayah Kecamatan Pattallassang,
selanjutnya diolah dan hasilnya disajikan tabel distribusi, frekuensi dan
presentase dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan dan secara keseluruhan dapat
dilihat berikut ini.
Tabel 1
Distribusi Akseptor Depoprogestin Berdasarkan Umur
di wilayah Kecamatan Pattallassang
Periode Januari – Maret
2013
|
Umur
n %
|
|
20-35 Tahun
107
71,8
|
|
< 20 dan > 35 Tahun
42 28,2
|
|
Jumlah 149 100
|
Sumber : Data wilayah Kecamatan Pattallassang
Dari tabel
1 di atas menunjukkan bahwa dari 149 akseptor Depoprogestin, terbanyak di
temukan pada kelompok umur 20 – 35 tahun sebanyak 107 (71,8%) orang yang secara
media merupakan resiko rendah, sementara untuk kelompok umur < 20 tahun dan
>35 tahun didapatkan hanya sebagian kecil yakni 42 (28,2%) akseptor Depoprogestin.
Tabel 2
Distribusi Akseptor
Depoprogestin Berdasarkan Paritas
di wilayah Kecamatan Pattallassang
Periode Januari – Maret 2013.
|
Paritas
n %
|
|
Resiko Rendah (2-3)
80
53,6
|
|
Resiko Tinggi (1 dan >3)
69 46,3
|
|
|
|
Jumlah 149 100
|
Sumber : Data wilayah Kecamatan Pattallassang.
Berdasarkan
tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dari 149 akseptor KB suntikan paritas
terbanyak menggunakan alat kontrasepsi adalah 2-3 sebanyak 80 (53,6%) dan yang
paling sedikit menggunakan alat kontrasepsi suntikan adalah paritas 1 dan >
3 sebanyak 69 (46,3%) akseptor Depoprogestin.
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil
penelitian yang menggunakan KB Depoprogestin di wilayah Kecamatan Pattallassang
2013 maka dapat disimpulkan.
1.
Gambaran umum frekuensi Akseptor
Depoprogestin berdasarkan umur menunjukkan bahwa kelompok umur yang terbanyak
menggunakan alat kontrasepsi suntikan adalah kelompok umur 20-35 tahun sebanyak
107 (71,8%) akseptor.
2.
Gambaran umum frekuensi Akseptor
Depoprogestin berdasarkan paritas terbanyak pada paritas 2-3 sebanyak 80 (53,6%) akseptor.
5.2 Saran
1.
Untuk petugas kesehatan
Diharapkan
peran tenaga yang terkait khususnya bidan melakukan pendekatan kepada peserta
oleh petugas pelayanan KB dengan cara konseling KB agar mampu menumbuhkan rasa
aman dan percaya bagi peserta kontrasepsi suntikan.
2.
Untuk Institusi
Untuk
mendapatkan hasil yang diharapkan, penerapan manajemen asuhan kebidanan dalam
pemecahan masalah harus lebih ditingkatkan dan dikembangkan mengingat proses
tersebut sangat bermanfaat dalam membina tenaga bidan guna menciptakan sumber
daya manusia yang berpotensi dan profesional.
3.
Untuk Lokasi Penelitian
Diharapkan di
wilayah kerja Kecamatan Pattallassang agar dapat lebih meningkatkan pelayanan
dan memfasilitasi khususnya dalam pelayanan keluarga Berencana, serta perlunya
peningkatan keterampilan bidan dalam memberikan palayanan.
4.
Untuk Peneliti
Diharapkan
kepada teman-teman sejawat khususnya bidan untuk melanjutkan pendidikan ini,
agar mendapat data yang lebih akurat tentang faktor-faktor yang berhubungan
dengan alat kontrasepsi dengan menggunakan metode penelitian lain.
DAFTAR PUSTAKA
Affandi, B. (2011). Buku
Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Wawasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirahardjo, Jakarta.
Handayani, S.
(2010). Buku Ajar Pelayanan Keluarga
Berencana, Pustaka Rihama, Yogyakarta
Ida Ayu Chandranita Manuaba, Ida Bagus
Gde Fajar Manuaba. (2010). Ilmu
Kebidanan, penyakit kandungan dan KB, EGC, Jakarta
Manuaba IBG.
(2012). Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC, Jakarta.
Meilani, S (2010). Pelayanan
Keluarga Berencana, Fitramaya, Yogyakarta.
Mochtar, R. (2012).
Sinopsis Obstetri. Jilid 2.Edisi 2,
Penerbit EGC. Jakarta.
Pinem, S. (2009). Kesehatan
Reproduksi dan Kontrasepsi, Trans Info Media, Jakarta.
Setiawan, A. (2010).
Metodologi Penelitian Kebidanan, Nuha
Medika, Yogyakarta
Sudijono, A. (2008).
Pengantar Statistik Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Sulistyawati, A.
(2013). Pelayanan Keluarga Berencana, Salemba Medika, Jakarta
Suyanto, Salamah
U,. (2009). Riset Kebidanan, Mitra Cendikia Press, Jogjakarta.
Wiknjosastro, H. (2007) Ilmu
Kebidanan Edisi 3, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta
Wiknjosastro, H. (2009) Ilmu Kandungan Edisi 4, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Asriani (2012) Gambaran
Pengguna Suntikan Depo Progestin di Puskesmas Towata Periode Januari s.d Maret
2012, Kabupaten Takalar.
MASTER TABEL
GAMBARAN UMUM
AKSEPTOR DEPO PROGESTIN DI KELURAHAN PAPPA KECAMATAN PATTALLASSANG KABUPATEN
TAKALAR PERIODE JANUARI S.D. MARET 2013
|
No. Responden
|
Nama
|
Umur
|
Paritas
|
|
1
|
Ny " N "
|
31
|
III
|
|
2
|
Ny “ H “
|
30
|
III
|
|
3
|
Ny " M "
|
30
|
III
|
|
4
|
Ny “ R”
|
30
|
III
|
|
5
|
Ny “ L “
|
28
|
II
|
|
6
|
Ny " N "
|
30
|
II
|
|
7
|
Ny " S "
|
23
|
II
|
|
8
|
Ny " R "
|
36
|
II
|
|
9
|
Ny " P "
|
32
|
II
|
|
10
|
Ny " B "
|
23
|
I
|
|
11
|
Ny " R "
|
16
|
I
|
|
12
|
Ny " B "
|
39
|
I
|
|
13
|
Ny " H "
|
29
|
I
|
|
14
|
Ny " K "
|
33
|
III
|
|
15
|
Ny " E "
|
21
|
II
|
|
16
|
Ny " N "
|
23
|
I
|
|
17
|
Ny " N "
|
30
|
I
|
|
18
|
Ny " B "
|
35
|
III
|
|
19
|
Ny " N "
|
26
|
III
|
|
20
|
Ny " K "
|
32
|
II
|
|
21
|
Ny " M "
|
28
|
I
|
|
22
|
Ny " J "
|
27
|
I
|
|
23
|
Ny " E "
|
32
|
III
|
|
24
|
Ny " N "
|
19
|
I
|
|
25
|
Ny " R "
|
22
|
III
|
|
26
|
Ny " N "
|
26
|
I
|
|
27
|
Ny " B "
|
35
|
III
|
|
28
|
Ny " K "
|
39
|
III
|
|
29
|
Ny " I "
|
35
|
I
|
|
30
|
Ny " J "
|
41
|
II
|
|
31
|
Ny " H "
|
35
|
I
|
|
32
|
Ny " J "
|
22
|
II
|
|
33
|
Ny " R "
|
30
|
III
|
|
34
|
Ny " P "
|
26
|
II
|
|
35
|
Ny " B "
|
48
|
VI
|
|
36
|
Ny " M "
|
47
|
V
|
|
37
|
Ny " S "
|
26
|
I
|
|
38
|
Ny " M "
|
45
|
II
|
|
39
|
Ny " S "
|
30
|
V
|
|
40
|
Ny " N "
|
30
|
III
|
|
41
|
Ny " R "
|
29
|
I
|
|
42
|
Ny " R "
|
42
|
II
|
|
43
|
Ny " T "
|
33
|
III
|
|
44
|
Ny " H "
|
27
|
II
|
|
45
|
Ny " N "
|
17
|
I
|
|
46
|
Ny " S "
|
33
|
III
|
|
47
|
Ny " S "
|
42
|
III
|
|
48
|
Ny " D "
|
20
|
I
|
|
49
|
Ny " N "
|
37
|
III
|
|
50
|
Ny " S "
|
29
|
II
|
|
51
|
Ny " R "
|
32
|
IV
|
|
52
|
Ny " N "
|
37
|
IV
|
|
53
|
Ny " D "
|
40
|
IV
|

